Sambut Malam Lailatul Qadar, Masyarakat Kalurahan Jatiayu Gelar Tradisi Selikuran

Jatiayu 11 Maret 2026 12:50:06 WIB

Jatiayu (SIDA) – Memasuki fase sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan 1447 H, masyarakat di berbagai padukuhan di wilayah Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, kembali menghidupkan tradisi turun-temurun berupa "Selikuran". Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama menyambut datangnya malam Lailatul Qadar.

Tradisi Selikuran tahun ini berlangsung khidmat dengan pusat kegiatan yang tersebar di beberapa titik strategis padukuhan. Berdasarkan pantauan, pelaksanaan acara tidak hanya berpusat di tempat ibadah, namun juga menyentuh ruang-ruang sosial kemasyarakatan lainnya.

Pelaksanaan Selikuran di Kalurahan Jatiayu menunjukkan kearifan lokal yang kental dengan semangat kebersamaan. Beberapa padukuhan memilih lokasi pelaksanaan yang berbeda-beda, di antaranya:

  • Masjid dan Mushola: Sebagian besar warga berkumpul di masjid setempat untuk melaksanakan zikir, doa bersama, dan kenduri setelah salat Tarawih.

  • Balai Padukuhan: Menjadi pusat berkumpulnya warga dalam skala yang lebih besar untuk mempererat silaturahmi antar RT.

  • Rumah Sesepuh Dusun: Beberapa wilayah masih mempertahankan tradisi dengan mendatangi rumah tokoh atau sesepuh dusun sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian adat unggah-ungguh.

Tradisi Selikuran, yang secara harfiah merujuk pada angka selikur (dua puluh satu), merupakan warisan budaya Jawa yang dipadukan dengan ajaran Islam. Dalam acara ini, warga biasanya membawa berkat atau tumpeng yang kemudian didoakan bersama-sama.

Selain sebagai ritual keagamaan, Selikuran di Jatiayu juga menjadi ajang sedekah dan memperkuat solidaritas sosial. "Tradisi ini adalah warisan sosial yang dilakukan turun-temurun untuk mengingatkan kita agar lebih giat beribadah di penghujung Ramadan," ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.

Meskipun zaman terus berkembang, antusiasme warga Jatiayu—terutama generasi muda—dalam mengikuti tradisi ini tetap tinggi. Partisipasi aktif masyarakat dalam menyiapkan hidangan dan menata tempat acara menunjukkan bahwa nilai-nilai gotong royong di Kalurahan Jatiayu masih terjaga dengan baik.

Dengan terlaksananya tradisi Selikuran ini, diharapkan masyarakat Kalurahan Jatiayu senantiasa diberikan keberkahan, kedamaian, dan kekuatan dalam menjalankan ibadah hingga hari kemenangan tiba. (jati)

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung