Wujudkan Pelayanan Publik Berintegritas, Kapanewon Karangmojo Perkuat Budaya Pemerintahan "Satriya"
Jatiayu 17 Maret 2026 00:09:08 WIB
Jatiayu (SIDA) – Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, Kapanewon Karangmojo menggelar forum penting bertajuk "Penguatan Budaya Pemerintahan Satriya di Kalurahan". Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Kapanewon Karangmojo dengan menghadirkan unsur pamong kalurahan dari seluruh wilayah Kapanewon.
Berdasarkan undangan resmi nomor 400.10/110/2026, agenda ini diikuti oleh Kamituwo Basuki Raharja, S.Pd, Ulu-ulu Subandi, dan Tatalaksana Wiri Kurniasih, S.Sos. atas instruksi Lurah se-Kapanewon Karangmojo. Uniknya, para peserta tampak mengenakan pakaian adat Jawa (Surjan/Lurik), yang mencerminkan identitas kuat Daerah Istimewa Yogyakarta dalam menjalankan roda pemerintahan.
Internalisasi Nilai "Satriya"
Budaya Pemerintahan SATRIYA merupakan filosofi kerja yang digagas oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Satriya sendiri merupakan akronim dari:
-
Selaraskan
-
Akal Budi Luhur-mulia
-
Teladan-keteladanan
-
Rela Melayani
-
Inovatif
-
Yakin dan percaya diri
-
Ahli-profesional
Pertemuan ini menekankan bahwa integritas bukan sekadar slogan, melainkan sikap nyata para pamong (Kamituwo, Ulu-ulu, dan Tatalaksana) dalam melayani warga, mulai dari urusan sosial, pembangunan desa, hingga administrasi keuangan kalurahan.
Data Pendukung & Konteks Jurnalistik
Sebagai pendukung narasi berita, berikut adalah konteks penting terkait penerapan budaya Satriya:
-
Transformasi Birokrasi: Merujuk pada Peraturan Gubernur DIY Nomor 157 Tahun 2011, Budaya SATRIYA adalah upaya formal untuk mengubah pola pikir (mindset) aparatur sipil dan pamong agar lebih berorientasi pada kepentingan publik.
-
Peran Kamituwo & Ulu-ulu: Di tingkat Kalurahan, Kamituwo memegang peran kunci dalam urusan sosial-kesehatan (seperti penanganan stunting), sementara Ulu-ulu bertanggung jawab pada pembangunan fisik. Penerapan nilai "Rela Melayani" dan "Ahli" di posisi ini sangat menentukan kepuasan warga.
-
Pelayanan Terintegrasi: Budaya kerja ini bertujuan menciptakan sistem pelayanan yang transparan dan akuntabel, sejalan dengan predikat Kapanewon Karangmojo yang terus mendorong zona integritas di wilayah Kabupaten Gunungkidul.
"Peningkatan pelayanan publik yang berintegritas dimulai dari keselarasan antara pikiran dan perbuatan para pamong di tingkat kalurahan," ungkap Panewu Karangmojo, Emmanuel Krisno Juwoto, S.Sos, dalam pesannya melalui agenda tersebut.
Harapan Kedepan
Melalui penguatan budaya Satriya ini, diharapkan koordinasi antara pemerintah Kapanewon dan Kalurahan semakin solid. Warga Karangmojo diharapkan dapat merasakan dampak langsung berupa pelayanan yang lebih cepat, ramah, dan bebas dari praktik maladministrasi.
Formulir Penulisan Komentar
Pencarian
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Sinergi Lintas Generasi: Masjid Barokah Kerdon Salurkan 930 Kg Zakat Fitrah Secara Door-to-Door
- Mushola Nurul Yakin Sawahan 5 Salurkan 404,5 Kg Zakat Fitrah
- Masjid At Taqwa Sawahan 5
- Sinergi Warga Wonotoro: Masjid Nurul Rahmah Hidayah Salurkan 1,141 Kg Zakat Fitrah
- Wujudkan Kepedulian Sosial, Panitia Zakat Masjid Al Qomar Salurkan 1,1 Ton Beras Fitrah
- Jelang Idul Fitri dan Nyepi 2026, Pelayanan Kalurahan Jatiayu Libur Sepekan
- Jogoboyo Mengikuti Kegiatan Pengisian Data Ketangguhan Bencana
















